Postingan

Ketergantungan Hadramaut-Nusantara

Gambar
  A ] Ketergantungan Ekonomi dan Sosial  Hadramaut dengan Nusantara pada awal abad ke-20, berdasarkan catatan Daniel van der Meulen (1932). Simbiosis Hadramaut-Nusantara: Analisis Geopolitik dan Ekonomi 1932 Secara historis, narasi populer sering menempatkan Hadramaut (khususnya kota Tarim) sebagai pusat gravitasi spiritual bagi Nusantara. Namun, catatan perjalanan Daniel van der Meulen, seorang administrator dan diplomat Belanda, mengungkap realitas yang kontras dari sudut pandang ekonomi-politik: Pada masa itu, Hadramaut secara fungsional adalah "provinsi ekonomi" dari Hindia Belanda. 1. Hadramaut sebagai "Ekonomi Remitansi" Dalam istilah ilmiah, Hadramaut pada masa itu menjalankan sistem Ekonomi Remitansi. Artinya, keberlangsungan hidup sebuah wilayah bergantung sepenuhnya pada aliran dana dari warganya yang merantau di luar negeri (Nusantara).  * Arus Modal: Kekayaan yang dikumpulkan dari sektor perdagangan di Jawa, Sumatera, dan Singapura tidak diinvestasikan k...

Nasab Ba'alwi Gugur Secara Ijma' Isbat Nasab Maupun Syuhrah Wal Istifadhoh...!!!

Gambar
Para pendukung nasab Ba'alwi masih kekeh dan ngotot dengan menunjukan kaidah Ijma' Isbat Nasab dan kaidah Syuhrah wal Istifadhoh, sedang standar kedua kaidah tersebut wajib ada syarat yang harus dipenuhi bukan asal. Berikut ulasannya, [ A ] Sanggahan Terhadap Klaim Ijma’ Isbat Nasab Ba’alwi 1. Tidak Ada Ijma’ dalam Penetapan Nasab Ijma’ (kesepakatan ulama) adalah konsep yang berlaku dalam hal-hal syariat, seperti hukum halal-haram, ibadah, dan muamalah, bukan dalam penetapan nasab. Dalam ilmu ushul fiqh, ijma’ hanya sah apabila terjadi kesepakatan seluruh mujtahid dalam suatu generasi (lihat Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam karya Al-Amidi). Oleh karena itu, tidak ada ijma’ yang dapat digunakan sebagai dasar penetapan nasab, karena penetapan nasab harus didasarkan pada dalil yang lebih jelas dan bukti yang konkret. Dalilnya: “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebi...

Inilah Daftar Bukti Habaib Ba'alwi Hanya Bisa Mengkloning

Gambar
Oleh : Husni Mubarok Al Qudusi Kita yang waras ini maupun yang sudah terbebaskan dari belenggu khurafat hadramautisme jangan pernah merasa lelah untuk selalu bergerak mempersempit ruang gerak kaum Syiah Ismailiyah bani Ubaid, yaitu Habaib Ba'alwi Al Kadzabah yang sangat rasis keturunam Yahudi Ashkenazi Khazarian asal Tarim Hadramaut Yaman. Muhibbin itu sejatinya korban dari perbudakan spiritual yang menumpulkan akal sehat, maka harus dibebaskan. Tidak ada data dan sejarahnya Habaib Ba'alwi ikut mendirikan NU apa lagi nimbrung untuk mendiskusikan berdirinya NKRI, yang ada hanya mereduksi peran para Kiai pribumi dalam perjuangan pembebasan dari penjajahan. Demi Allah mereka hanya lah benalu, Dajjal yang menyesatkan. Sahabat Nabi SAW, Hudzaifah ra, mengisahkan, Dajjal akan keluar membawa air dan api. Yang dilihat manusia sebagai api, sebenarnya air. Apa yang dilihat manusia sebagai air, sebenarnya adalah api. Rekayasa Dajjal semakin sempurna karena bersamanya ada dukungan materi y...

POLEMIK TAMBANG NU : NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

Gambar
  Oleh : (Faqih Wirahadiningrat, penulis buku BENTENG NU, RAYAP BA'ALWI) وَإِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُحِبُّ الدُّنْيَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ “Jika engkau melihat seorang alim mencintai dunia, maka ketahuilah bahwa ia adalah pencuri (agama).” 📖 Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, Juz I, Kitâb al-‘Ilm Pendahuluan : Polemik Etik, Bukan Sekadar Administrasi Polemik keterlibatan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) dalam isu pertambangan bukanlah persoalan teknis semata, melainkan persoalan etik keulamaan, amanah sejarah, dan orientasi moral jam‘iyyah. Reaksi keras yang muncul dari warga Nahdliyyin menunjukkan bahwa isu ini menyentuh fondasi terdalam NU, yaitu kepercayaan jama‘ah kepada ulama. Judul tulisan ini — “Nabi Menolak, NU Justru Menerima” — bukan provokasi, melainkan cermin perenungan : mengapa Rasulullah ﷺ menolak dominasi dunia ketika ditawari kekayaan bumi, sementara hari ini dunia justru dilihat sebagai instrumen perjuangan oleh sebagian pewaris ajaran beliau? Nabi ﷺ dan Penolakan ter...

Isra Mi'raj Dan Sains Fisika Modern

Gambar
  Oleh : Husni Mubarok Al Qudusy, LD PCNU Pemalang Dalam Islam, berpikir merupakan salah satu kemampuan paling mulia yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Melalui akal, manusia dapat membedakan antara yang benar dan salah, menimbang suatu keputusan, serta memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Salah satu bentuk berpikir yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam adalah berpikir kritis. Hikmah berpikir kritis bukan hanya terbatas pada kemampuan logika, tetapi juga mencakup kemampuan menilai dengan hati yang bersih dan sesuai dengan nilai-nilai syariat. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT sering memerintahkan manusia untuk tafakkur (merenung), tadabbur (memahami secara mendalam), dan ta’aqqul (menggunakan akal). Semua perintah tersebut menjadi dasar penting bagi umat Islam untuk mengembangkan hikmah berpikir kritis. Melalui cara berpikir yang tajam dan berlandaskan iman, seorang muslim akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, menghindari kesalahan, dan semakin dekat dengan...

17 Perbedaan Ajaran Nahdlatul Ulama dan Ajaran Habaib: Kritik Kepada KH Ma’ruf Khozin Yang Menyatakan Kesamaan Ajaran NU & Baalawi

Gambar
Oleh: Gus Abdul Aziz Jazuli KH Maruf Khozin merupakan salah satu ulama muda NU yang cukup aktif dalam membela Habaib dan ajarannya di beberapa platform media sosial. Di antaranya di dalam vidionya, ia menyebutkan bahwa ajaran NU dan ajaran Habaib Baalawi adalah sama. Maka dalam tulisan yang sederhana ini, penulis ingin menyanggah statemen yang disampaikan.  Adapun poin-poin yang dapat diambil dari vidionya yang diunggah di Nabawi TV, ia menyebut bahwa: “Tradisi Haul dan Amaliah Bersama. Salah satu bukti konkret kesamaan amaliah adalah tradisi Haul. Beliau menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sering mengingat-ngingat (dzikro) Sayyidah Khadijah, yang menjadi dasar pelaksanaan haul (dzikra wafat). Dan amalan seperti tahlil, talkin mayit, dan dzikir saat ziarah kubur (tasbih, takbir, tahlil) memiliki landasan hadis yang sama, seperti riwayat Imam Ahmad tentang saat wafatnya sahabat Sa’ad bin Mu’adz.” Tentu bagi yang menelaah buku yang penulis terbitkan dengan judul “Membongkar Ajaran khuro...