Isra Mi'raj Dan Sains Fisika Modern
Oleh : Husni Mubarok Al Qudusy, LD PCNU Pemalang
Dalam Islam, berpikir merupakan salah satu kemampuan paling mulia yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Melalui akal, manusia dapat membedakan antara yang benar dan salah, menimbang suatu keputusan, serta memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Salah satu bentuk berpikir yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam adalah berpikir kritis. Hikmah berpikir kritis bukan hanya terbatas pada kemampuan logika, tetapi juga mencakup kemampuan menilai dengan hati yang bersih dan sesuai dengan nilai-nilai syariat.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT sering memerintahkan manusia untuk tafakkur (merenung), tadabbur (memahami secara mendalam), dan ta’aqqul (menggunakan akal). Semua perintah tersebut menjadi dasar penting bagi umat Islam untuk mengembangkan hikmah berpikir kritis.
Melalui cara berpikir yang tajam dan berlandaskan iman, seorang muslim akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, menghindari kesalahan, dan semakin dekat dengan kebenaran yang hakiki.
Dalam Al-Qur’an, surat Al-Isra ayat 1,
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Isra Mi'raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Pada malam itu, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan luar biasa dari Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem dengan jarak sekitar 1.471 kilometer. Tidak hanya itu, dari sana Rasulullah SAW kemudian dinaikkan hingga Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Seluruh rangkaian peristiwa ini diyakini berlangsung hanya dalam satu malam.
Bagi banyak orang, terutama dari sudut pandang logika modern, Isra Mikraj memunculkan rasa penasaran. Bagaimana mungkin seorang manusia menempuh jarak ribuan kilometer, bahkan menembus langit, dalam waktu yang sangat singkat? Terlebih pada masa itu, belum ada teknologi transportasi cepat seperti pesawat terbang. Perjalanan darat dengan berjalan kaki atau menunggang hewan saja membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Pertanyaan ini kerap dikaitkan dengan sains, khususnya fisika modern. Ternyata bahwa peristiwa Isra Mi'raj tidak dapat dijelaskan menggunakan teori relativitas khusus yang dikembangkan Albert Einstein.
Dilansir dari situs Britannica menyatakan, teori relativitas khusus menjelaskan hukum fisika berlaku sama dalam kerangka acuan yang bergerak dengan kecepatan konstan, terutama saat mendekati kecepatan cahaya. Namun, semakin mendekati kecepatan cahaya, energi yang dibutuhkan akan semakin besar dan waktu akan melambat secara ekstrem. Kecepatan cahaya sendiri mencapai sekitar 299.792 kilometer per detik.
Namun jika hanya Isra Mi'raj dipahami semata-mata melalui teori ini, maka Rasulullah SAW seharusnya telah melesat sangat jauh hingga keluar dari tata surya. Faktanya, Nabi Muhammad SAW tetap berada di bumi dan kembali ke Makkah dalam waktu yang singkat.
Bahwa cahaya, dengan kecepatan tersebut, mampu mengelilingi bumi sekitar enam hingga tujuh kali hanya dalam satu detik. Sementara itu, dalam kisah Isra Mi'raj, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan menggunakan Buraq. Jika diasumsikan bergerak dengan kecepatan cahaya, maka dalam satu jam Rasulullah SAW bisa menempuh jarak lebih dari 4,3 miliar kilometer. Alias hampir setara jarak bumi ke Neptunus, planet terluar di tata surya.
Dengan kecepatan sedemikian tinggi, menurut hukum fisika, massa suatu objek justru akan hancur akibat energi yang terlalu besar. Atas dasar ini, ternyata teori relativitas khusus tidak memadai untuk menjelaskan Isra Mikraj. Teori yang sedikit lebih relevan adalah teori relativitas umum, yang menjelaskan bahwa gravitasi merupakan akibat dari kelengkungan ruang dan waktu yang disebabkan oleh massa dan energi.
Dalam relativitas umum, dikenal pula kemungkinan adanya dimensi ruang yang lebih tinggi atau bersifat non-fisik, yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Manusia hidup dalam dimensi ruang. Namun, dimensi lain di luar itu sulit dijelaskan sepenuhnya oleh sains.
Meski demikian, tidak bisa merinci lebih jauh bagaimana teori ini dapat secara konkret menjelaskan peristiwa Isra Mi'raj, karena keterbatasan daya fikir manusia. Yang jelas, peristiwa tersebut bukanlah perjalanan biasa, bukan pula perjalanan antariksa dengan wahana teknologi. Begitu juga bukan sekadar perpindahan antarplanet atau galaksi.
Teori Anihilasi
Peristiwa Isra Mi'raj juga bisa dijelaskan berdasarkan pendekatan kajian Fisika Quantum, yakni Teori Anihilasi. Teori ini menjelaskan reaksi pembentukan energi sangat besar dari tumbukan materi dan antimateri.
Tim peneliti dari Universitas Negeri Malang, Hismatul Istiqomah, dan Muhammad Ihsan Sholeh dari Universitas Negeri Jember, menjelaskan teori ini dalam penelitian yang dipublikasikan di Academic Journal of Islamic Studies (AJIS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Volume 5 No 1 tahun 2020.
Menurut tim peneliti, tubuh Nabi Muhammad SAW yang merupakan massa dari materi dihapus dengan massa antimateri dari Malaikat Jibril dan membentuk satu energi baru yang disebut sebagai Buraq. Secara fisika, Buraq bisa dipasangkan dengan konsep sinar gamma.
Dengan demikian, peristiwa Isra Mi'raj secara fisika adalah Nabi Muhammad SAW mengalami anihilasi, hilang materi fisiknya sebagai manusia dan menjadi energi cahaya.
Tim peneliti juga mengaitkan dengan konsep kesetaraan massa yang dirumuskan oleh Einstein. Materi dalam kondisi tertentu dapat diubah menjadi energi dan sebaliknya.
Setiap objek nyata di alam semesta terdiri dari materi submikroskopis yang dikenal sebagai atom, yang terdiri dari proton, neutron, dan elektron. Setiap materi memiliki antimateri di dalamnya.
Pandangan ini menunjukkan bahwa Buraq bukan subjek lain yang mengantarkan Nabi Muhammad SAW saat Isra, melainkan bagian dari dirinya sendiri.
Selain itu, reaksi anihilasi juga diklasifikasikan sebagai reaksi yang bisa berkebalikan dengan reaksi materialisasi. Energi yang sangat besar dapat dipecah kembali untuk membentuk materi dan antimateri yang semula bertumbukan.
Berdasarkan konsep fisika ini, setelah peristiwa Isra Mi'raj, Nabi Muhammad SAW dari termaterialisasi kembali ke bentuk fisik. Rasulullah dapat kembali normal menjadi sosok nyata yang dapat dirasakan dan dapat berkumpul dengan umatnya seperti biasa.
Pada akhirnya, Isra Mi'raj dipahami sebagai peristiwa spiritual sekaligus mukjizat. Dia berada di luar batas hukum fisika yang dikenal manusia. Dalam keimanan Islam, peristiwa ini diyakini sepenuhnya terjadi atas kehendak Allah SWT, melampaui kemampuan akal dan sains untuk menjelaskannya secara utuh.
Waallahu Alam

Komentar
Posting Komentar