Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

POLEMIK TAMBANG NU : NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

Gambar
  Oleh : (Faqih Wirahadiningrat, penulis buku BENTENG NU, RAYAP BA'ALWI) وَإِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُحِبُّ الدُّنْيَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ “Jika engkau melihat seorang alim mencintai dunia, maka ketahuilah bahwa ia adalah pencuri (agama).” 📖 Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, Juz I, Kitâb al-‘Ilm Pendahuluan : Polemik Etik, Bukan Sekadar Administrasi Polemik keterlibatan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) dalam isu pertambangan bukanlah persoalan teknis semata, melainkan persoalan etik keulamaan, amanah sejarah, dan orientasi moral jam‘iyyah. Reaksi keras yang muncul dari warga Nahdliyyin menunjukkan bahwa isu ini menyentuh fondasi terdalam NU, yaitu kepercayaan jama‘ah kepada ulama. Judul tulisan ini — “Nabi Menolak, NU Justru Menerima” — bukan provokasi, melainkan cermin perenungan : mengapa Rasulullah ﷺ menolak dominasi dunia ketika ditawari kekayaan bumi, sementara hari ini dunia justru dilihat sebagai instrumen perjuangan oleh sebagian pewaris ajaran beliau? Nabi ﷺ dan Penolakan ter...

Isra Mi'raj Dan Sains Fisika Modern

Gambar
  Oleh : Husni Mubarok Al Qudusy, LD PCNU Pemalang Dalam Islam, berpikir merupakan salah satu kemampuan paling mulia yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Melalui akal, manusia dapat membedakan antara yang benar dan salah, menimbang suatu keputusan, serta memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Salah satu bentuk berpikir yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam adalah berpikir kritis. Hikmah berpikir kritis bukan hanya terbatas pada kemampuan logika, tetapi juga mencakup kemampuan menilai dengan hati yang bersih dan sesuai dengan nilai-nilai syariat. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT sering memerintahkan manusia untuk tafakkur (merenung), tadabbur (memahami secara mendalam), dan ta’aqqul (menggunakan akal). Semua perintah tersebut menjadi dasar penting bagi umat Islam untuk mengembangkan hikmah berpikir kritis. Melalui cara berpikir yang tajam dan berlandaskan iman, seorang muslim akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, menghindari kesalahan, dan semakin dekat dengan...

17 Perbedaan Ajaran Nahdlatul Ulama dan Ajaran Habaib: Kritik Kepada KH Ma’ruf Khozin Yang Menyatakan Kesamaan Ajaran NU & Baalawi

Gambar
Oleh: Gus Abdul Aziz Jazuli KH Maruf Khozin merupakan salah satu ulama muda NU yang cukup aktif dalam membela Habaib dan ajarannya di beberapa platform media sosial. Di antaranya di dalam vidionya, ia menyebutkan bahwa ajaran NU dan ajaran Habaib Baalawi adalah sama. Maka dalam tulisan yang sederhana ini, penulis ingin menyanggah statemen yang disampaikan.  Adapun poin-poin yang dapat diambil dari vidionya yang diunggah di Nabawi TV, ia menyebut bahwa: “Tradisi Haul dan Amaliah Bersama. Salah satu bukti konkret kesamaan amaliah adalah tradisi Haul. Beliau menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sering mengingat-ngingat (dzikro) Sayyidah Khadijah, yang menjadi dasar pelaksanaan haul (dzikra wafat). Dan amalan seperti tahlil, talkin mayit, dan dzikir saat ziarah kubur (tasbih, takbir, tahlil) memiliki landasan hadis yang sama, seperti riwayat Imam Ahmad tentang saat wafatnya sahabat Sa’ad bin Mu’adz.” Tentu bagi yang menelaah buku yang penulis terbitkan dengan judul “Membongkar Ajaran khuro...

Inilah Penyebab Terjadinya Khurafat

Gambar
Oleh : Husni Mubarok Al Qudusy, LD PCNU Kab Pemalang Dalam pandangan Islam, khurafat adalah segala bentuk kepercayaan atau cerita rekayasa yang menyimpang dari ajaran syariat dan berpotensi merusak akidah serta ketauhidan seorang Muslim.  Khurafat juga merujuk kepada segala bentuk kepercayaan yang bersifat palsu, tidak bersandarkan dalil syar’i, dan sering bercampur antara dongeng serta unsur syirik. Penjelasan ini menegaskan bahwa khurafat bukan hanya kesalahan intelektual, tetapi juga ancaman spiritual yang bisa menjerumuskan seseorang pada perbuatan tercela di sisi Allah. Di masyarakat, khurafat biasanya muncul dalam bentuk cerita leluhur, benda-benda keramat, atau ritual tertentu yang dipercaya mendatangkan berkah tanpa dasar agama. Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad, memberikan nasihat agar setiap penuntut ilmu menghindari hal-hal yang menyesatkan dari kebenaran. Ia menegaskan jangan kau habiskan waktumu pada hal-hal yang tidak ada manfaatnya di akhirat. Hati-ha...

Akhenaten, Fir'aun Pertama yang Kenalkan Monoteisme, Lebih Dulu dari Nabi Musa as?

Gambar
  Oleh : Husni Mubarok Al Qudusy, LD PCNU Pemalang Monoteisme atau percaya pada satu Tuhan, yang berkuasa penuh atas segala sesuatunya, dibawa oleh Nabi Musa as. Namun, sebelum Nabi Musa as, dipercaya ada seorang pangeran muda Mesir yang lebih dulu mengenalkan monoteisme pada pengikutnya. Pangeran muda Mesir Kuno tersebut hidup pada pertengahan abad ke-14 SM. Dia meninggalkan tradisi yang telah membentuk citra spiritual, agama, dan politiknya, bersama dengan istana tempat ia tinggal sebagai penguasa. Dia membalikkan kepercayaan masyarakat pada banyak dewa pagan dengan mengumumkan hanya ada satu tuhan tertinggi. “Betapa agung karya-karyamu, tersembunyi dari mata manusia,” tulisnya dalam himne puitis untuk dewanya. Dia kemudian menghancurkan berhala nenek moyangnya dan memimpin rakyatnya ke padang pasir. Menurut Haaretz (10 April 2018), nama monoteis (penganut ajaran monoteisme) pertama yang tercatat ini bukanlah Nabi Musa as, tetapi Akhenaten (sebelumnya bernama Amenhotep IV). Meski...